Sabtu, 19 Juni 2010

Badai Konflik Menghantam Muslim Asia Tengah


Badai konflik berbasik etnik menghantam Kyrgiztan dan Uzbekistan, dua negara bertetangga dan berpenduduk mayoritas Muslim di wilayah Asia Tengah (Transoxiana). Sejak Selasa (15/6), Uzbekistan memutuskan untuk menutup wilayah perbatasannya dengan Kyrgiztan di tengah arus ratusan ribu pengungsi etnis Uzbek dari Kyrgiztan ke Uzbekistan.
Kerusuhan etnik tersebut mulai mencuat di wilayah Osh, Kyrgiztan, yang melibatkan warga etnis Kyrgiz dan Uzbek sejak malam Jum'at (10/6) lalu. Kerusuhan terus merambat dan membesar hingga ke kota-kota lainnya, hingga menewaskan lebih dari 120 orang, melukai lebih 1.600 warga, dan mengungsikan puluhan ribu warga, utamanya dari etnik Uzbek.
Keributan berawal dari perkelahian di kasino di kota Osh dan membesar menjadi bentrokan di jalanan. Ribuan orang membawa senapan, tongkat, dan bom molotov. Mobil-mobil dirusak dan dibakar, bangunan-bangunan dijarah. Suara tembakan terdengar di berbagai penjuru kota.
Di Desa Bazar-Kurgan, Jalalabad, massa etnis Uzbek menggulingkan mobil dan menewaskan seorang kapten polisi. Warga Kyrgiz dari wilayah lain kemudian berdatangan membawa tongkat, pemukul besi, dan garpu rumput untuk membalas.
Massa etnis Kyrgiz menewaskan 30 orang Uzbek di Desa Suzak di Jalalabad. Komandan militer setempat, Talaaibek Myrzabayev, mengatakan, desa Uzbek lainnya, Dostuk, dibakar etnis Kyrgiz.
Pemerintahan Kyrgiztan, yang baru merebut kekuasan pasca kudeta April silam, tidak bisa banyak berbuat banyak di hadapan kerusuhan ini. Pemerintahan bahkan menuding otoritas yang dikudeta sebagai penyebab dibalik meledaknya kerusuhan etnik itu.
Seorang pejabat pemerintahan Uzbekistan menyebutkan, jumlah pengungsi tersebut bisa mencapai ratusan ribu jiwa. Sejak konflik itu meledak, puluhah ribu pengungsi etnis Uzbek telah melarikan diri melintasi perbatasan dari Kyrgiztan ke Uzbekistan untuk menyelamatkan diri.
Puluhan ribu pengungsi pun banyak mendirikan tenda-tenda ala kadarnya di sepanjang wilayah perbatasan.
Wakil Presiden Pemerintahan Sementara Kyrgiztan Azim Bek Beknazarov sendiri mengatakan pada Selasa (15/6), suasana ketegangan di bebepa titik konflik sudah mulai mereda. Kota Jalalabad pun sudah dikatakan mendekati kembali normal. Namun, keadaan belum beranjak normal di kota Osh. Suasana tegang masih menyelimuti kota tersebut.
Di sisi yang lain, pemerintahan Uzbekistan pada Selasa (15/6), memutuskan untuk menutup wilayah perbatasan bagi para pengungsi, karena sudah tidak adanya lagi tempat bagi mereka.
"Uzbekistan mendesak dunia internasional untuk ikut andil menyelesaikan konflik ini," kata seorang pejabat Uzbekistan.
Sementara itu, PBB baru mengeluarkan kecamannya pada Senin (14/6) kemarin terkait kerusuhan besar ini. PBB menyerukan agar semua pihak yang terkait kerusuhan untuk bisa menahan diri dan mengakhiri kerusuhan secepatnya, juga menyerukan masyarakat internasional untuk mengulurkan bantuan ke wilayah pengungsian.
Kyrgiz dan Uzbek merupakan dua etnik serumpun yang sama-sama berasal dari ras Turkik. Mayoritas kedua etnik tersebut juga beragama Islam. Kedekatan kedua etnik tersebut serupa dengan kedekatan etnik Jawa dan Sunda. (ags/berbagaisumber)

Polling: 73% Warga Rusia Menilai AS Sebagai Negara Agresor


Hampir tiga perempat dari warga Rusia melihat negara AS sebagai "agresor" yang berusaha mendominasi dunia, menurut sebuah jajak pendapat yang dikeluarkan oleh lembaga jajak pendapat Levada Center.
Survei yang dipublikasikan pada hari Rabu kemarin (24/3) menunjukkan bahwa 73 persen responden setuju bahwa Amerika Serikat adalah "agresor yang mencoba mengambil kendali" dari semua negara di dunia.
Hanya delapan persen setuju bahwa Amerika Serikat adalah "pembela perdamaian, demokrasi dan ketertiban," sementara 19 persen lagi mengatakan mereka ragu-ragu.
Hasil jajak pendapat ini datang meskipun telah ada upaya yang dilakukan oleh Presiden AS Barack Obama untuk memperbaiki hubungan dengan Rusia.
Rusia dan Amerika Serikat saat ini sedang menegosiasikan perjanjian perlucutan senjata nuklir baru untuk menyukseskan Perjanjian Pengurangan Senjata Strategis (START) tahun 1991 yang berakhir pada bulan Desember, tetapi belum mencapai kesepakatan akhir.(fq/prtv)

Marlon King: Striker Liga Inggris yang Menemukan Islam di Penjara

LONDON (voa-islam.com) – Ternyata, penjara tak selamanya berarti bencana dan duka nestapa. Kamar pengap berjeruji besi ini bahkan bisa menjadi kenikmatan seumur hidup. Setidak-tidaknya, itulah yang dialami oleh Marlon King, seorang striker (ujung tombak) sepak bola di Liga Inggris (Premier League).
Penjara benar-benar membuat Marlon King menemukan kebenaran hakiki dalam hatinya. Striker 29 tahun yang pernah dikontrak klub Wigan Athletic ini memeluk agama Islam, dan mengganti namanya menjadi Hamza.
King, dijebloskan ke penjara Wayland, setelah divonis 18 bulan penjara oleh pengadilan Southwark Crown, London, Jumat (30/10/2009). striker asal ini dinyatakan bersalah memukul seorang wanita muda di Revue Bar di daerah hip London, Soho, Desember 2008 silam. Bukan itu saja, manajemen klub pun sepakat untuk memutus kontraknya, padahal saat itu King tengah merayakan kehamilan istrinya serta mencetak gol dalam pertandingan, beberapa jam sebelumnya.

Namun berkehendak lain. Selama di penjara, Marlon belajar agama Islam setelah bertemu dengan Abu Hamza Tariq, yang dihukum tujuh tahun mulai tahun 2006 lalu.

Kini, Marlon menganggap Abu Hamza sebagai pahlawan hidupnya. Sebagai muallaf, Marlon kini menjadi Muslim yang taat, dengan menjalankan kewajiban shalat lima waktu, tidak mengonsumsi makanan haram, dan menjaga persaudaraan sesama Muslim.

Seperti dilansir dari The Sun, Marlo juga sering bertemu dengan Abu Hamza Tariq yang hanya memiliki satu tangan tersebut. Tidak hanya itu, Marlon juga membicarakan masalah jihad, serangan 9/11 di New York dan perang di Afghanistan.

“Marlon berubah dari seorang yang buruk dan kini pindah menjadi muslim. Dia memuji Abu Hamza sebagai pahlawan, meski dia tahu, resikonya ia dibenci khalayak,” tegas sumber dalam The Sun.

“Marlon bahkan akan mengislamkan keluarganya ketika dia keluar dari penjara akhir tahun ini. Ini bukan sementara, ini perubahan total. Marlo membaca buku mengenai Islam berjam-jam di telepon genggamnya,” papar sumber dalam tersebut.

Selamat datang dalam Islam, King. Semoga engkau jadi “striker” di jalan Allah. [taz/inlh]

Malaysia Tangkap Terduga Teroris Hanya Untuk Senangkan Barat

Malaysia ( Voa-Islam.com) - Awal tahun ini Malaysia menangkap sekelompok orang yang dituduh merencanakan aksi terorisme. Mereka dituduh berencana meledakkan dua tempat ibadah sebagai protes atas pemerintah yang dianggap kurang kuat mempertahankan Islam.
Tidak Transparan
Menurut Tian Chua seorang politikus Partai Keadilan Masyarakat Malaysia., identitas kesepuluh orang yang dituduh teroris itu tidak jelas, karena pemerintah Malaysia memang menahan informasi soal penangkapan. Yang diketahui dari berita di media adalah 4 orang Suriah, 2 orang Yaman, 2 orang Nigeria dan seorang Yordania. Yang disebut-sebut sebagai pimpinan komplotan adalah Aiman al-Dakkak, seorang dosen universitas Suriah. Pemerintah tidak mau menjelaskan kedudukan dan latar belakang mereka yang ditangkap.
Mereka ditangkap Januari lalu dan kesembilan orang asing langsung dideportasi. Saat ini mereka ditahan di negara masing-masing. Tian Chua mengatakan mereka semacam diasingkan, tidak bisa dihubungi dan tidak diijinkan kontak bahkan dengan pengacara mereka.
..Pelbagai LSM dan lembaga non pemerintah Malaysia lainnya tidak setuju dengan cara penangkapan seperti ini. Karena menurut Tian Chua, para tersangka teroris tidak disidang dan tidak diberi kesempatan membela diri..
Pelbagai LSM dan lembaga non pemerintah Malaysia lainnya tidak setuju dengan cara penangkapan seperti ini. Karena menurut Tian Chua, para tersangka teroris tidak disidang dan tidak diberi kesempatan membela diri. Hal ini melanggar ketentuan HAM.

Tian Chua menambahkan, para aktivis LSM menganggap, undang-undang internal security act yang digunakan sebagai dasar menangkap para teroris tidak tepat. Menurut mereka lagi, semua yang ditahan harus dihadapkan dulu ke pengadilan dan diadili secara terbuka. Selain itu mereka juga ingin agar ada kerja sama antara negara Asia Tenggara dengan tetap menjamin orang-orang asing yang ditangkap di Malaysia, punya hak bela diri, tidak langsung ditangkap atau ditahan.

Tidak Semua Terlibat
Tian Chua sendiri mengatakan tidak percaya kesepuluh orang yang ditangkap itu terlibat aksi terorisme. Menurutnya, motivasi pemerintah Malaysia mengadakan penangkapan adalah mengambil hati kuasa asing seperti Amerika atau negara barat lain. Barat sangat takut dan sensitif akan kemungkinan terorisme di Asia Tenggara, termasuk di Malaysia dan Indonesia.
..Tian Chua sendiri mengatakan tidak percaya kesepuluh orang yang ditangkap itu terlibat aksi terorisme. Menurutnya, motivasi pemerintah Malaysia mengadakan penangkapan adalah mengambil hati kuasa asing seperti Amerika atau negara barat lain..
Sepertinya pemerintah Malaysia tidak punya cukup bukti menuduh mereka semua sebagai teroris, tapi atas suruhan negara Barat, kesepuluh orang ini pun diciduk. Demikian Tian Chua.

Tanggapan Masyarakat?

Sejauh ini tidak ada aktivitas kejahatan yang melibatkan terorisme. Dalam hal terorisme, negara memang harus waspada dan setia memantau, tapi tetap penahanan seperti ini tidak bisa dibenarkan.

Menurut Tian Chua, rakyat Malaysia sudah sering menyaksikan pemerintah menangkap orang atas motif politik. Lagipula, sejauh ini tidak ada insiden terorisme, jadi tidak bisa penangkapan sewenang-wenang ini sungguh tidak bisa dibenarkan. Masyarakat tidak merasa Malaysia terancam terorisme secara langsung.

Seperti dikatakan Tian Chua, " Kami tidak mau pemerintah menekan LSM atau individu-individu tidak berdosa atas nama terorisme." (rnw)